Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Juli 02, 2011

Cara menulis yang baik

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Itu sebabnya, jika Anda tertarik untuk terjun ke dunia kepenulisan, syarat utamanya adalah harus merajinkan dan membiasakan diri untuk membaca. Membaca apa saja yang bisa dibaca. Insya Allah, dengan banyak membaca akan sangat menumpuk ide yang bisa dijadikan sebagai bahan tulisan. Khusus dalam pembahasan ini (dan yang paling sering ditulis) adalah menulis artikel.

Artikel sendiri bisa berarti karya tulis seperti berita atau esai. Esai adalah karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Itu sebabnya, artikel di media massa itu bertaburan data-data teknis, tapi lebih ke arah pemaparan sepintas lalu dan itu murni pendapat pribadi penulisnya setelah membaca pendapat lain dari begitu banyak karya yang telah dibacanya. Nah, bagaimana memulainya? Ada beberapa tips sederhana yang bisa dicoba:

Memilih topik

Memilih topik sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Hanya saja, bagi penulis pemula memilih topik sama beratnya dengan membuat judul atau isi tulisan. Padahal, tema atau topik yang bisa diangkat menjadi tulisan begitu banyak dan mudah kita dapatnya. Coba cari yang dekat dengan kita deh. Tanya teman kanan-kiri, nguping dari sana-sini. Atau bisa juga baca koran pagi ini, cari berita yang menarik. Setelah dapat, Anda bisa menulis ulang dengan sudut pandang Anda. Misalnya, judul berita yang Anda ambil adalah perilaku seks bebas remaja. Setelah baca berita itu, dari mulai fakta dan arahnya ke mana, Anda bisa bikin ulang dengan pengembangan yang Anda suka, dengan cara Anda sendiri. Anggap saja misalnya Anda sebagai wartawan yang menyelidiki kasus itu. Andi bisa ubah dengan versi baru tentang penyelidikan kasus seks bebas di kalangan remaja. Sebagai latihan aja kan? Mungkin kok. Coba deh!

Meski demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih topik:

1) Cari yang sedang menjadi tren.

2) Atau bisa juga kita menciptakan tren.

3) Pilih yang dekat dengan kebanyakan sasaran pembaca kita.

4) Hindari topik yang tidak kita kuasai atau menimbulkan polemik yang tak perlu.

5) Biasakan berlatih mengikuti peristiwa yang berkembang untuk bahan tulisan.

Membuat kerangka tulisan

Ada baiknya memang membuat kerangka tulisan. Dalam bahasa kerennya, Anda perlu membuat outline. Alasannya, kerangka tulisan berguna untuk membatasi apa yang harus kita tulis. Ibarat Pak Tani yang akan menggarap sawah, ia harus menentukan batas garapannya. Supaya tak melebar kemana-mana, apalagi sampe ngambil jatah orang.

Dengan membuat kerangka tulisan, kita akan mudah untuk menentukan maksud dan arah tulisan. Bahkan kita juga bisa berhemat dengan kata-kata, termasuk pandai memilih kosa kata yang pas untuk alur tulisan kita. Beberapa panduan untuk membuat kerangka tulisan:

1) Paparkan fakta-fakta seputar tema yang akan kita bahas.

2) Lakukan penilaian atas fakta-fakta itu. Sudut pandang rasional dan syariat.

3) Kumpulkan bahan-bahan pendukung argumentasi kita.

4) Kesimpulan.

Menabung kosa kata


Untuk menjadi penulis, bolehlah kita mencoba untuk menabung kosa kata. Mengumpulkan setiap hari lima saja. Maka dalam sebulan kita punya tabungan kosa kata sekitar 150 buah. Banyak bukan? Kosa kata itu cukup untuk memoles tulisan yang kita buat. Sebab, menulis adalah keterampilan mengolah data-data dalam suatu rangkaian kata. Ibarat kita mau membangun rumah, batu-bata sudah siap, semen dan pasir udah banyak, batu untuk pondasi udah menumpuk. Begitupun dengan kayu, bambu, cat, keramik dan genteng, sampe yang pernik-pernik seperti paku dan instalasi listrik semua udah lengkap.

Perlu keahlian khusus tentunya untuk merangkai semua itu jadi sebuah rumah. Menata batu untuk pondasi, memasang batu-bata dan merekatkannya dengan campuran semen, kapur, dan pasir. Memasang kayu-kayu untuk jendela dan pintu. Tembok yang sudah jadi, perlu dilapisi dempul sebelum akhirnya dicat dengan warna kesukaan kita. Menyusun genteng untuk menutupi atap rumah kita. Sampe rumah itu jadi dan enak dipandang mata. Mengasyikan tentunya.

Buatlah judul yang menarik

Pembaca akan mudah tertarik untuk membaca sebuah tulisan, jika judulnya juga menarik. Anggap saja judul itu sebagai pancingan. Itu sebabnya, boleh dibilang membuat judul perlu ‘keterampilan’ khusus. Tapi jangan kaget dulu, kita bisa belajar untuk membuatnya. Hanya perlu waktu dan sedikit kerja keras dan kerja cerdas untuk terus berlatih. Yakin bisa deh.

Sebagai latihan awal, cobalah Anda sering membaca tulisan orang lain. Kalau Anda mau, coba baca majalah-majalah ibu kota yang oke mengolah kata dalam membuat judul (misalnya TEMPO, GATRA, GAMMA, dan KONTAN). Perhatikan judul-judul tulisannya. Makin banyak Anda membaca judul tulisan-tulisan tersebut, kian terasah imajinasi Anda untuk membuat judul yang menarik hasil kreasi Anda sendiri. Terus terang saya juga banyak menggali ide untuk membuat judul dari majalah-majalah tersebut (selain banyak juga dari buku-buku dan majalah lainnya).

Untuk jenis tulisan yang ngepop, buatlah judul yang pendek. Paling tidak dua sampai empat kata. Jangan sampe panjang seperti rangkaian kereta api (ini cocoknya untuk skripsi). Sebab, jika judul yang kita buat panjang--padahal tulisan ngepop--membuat orang tak tertarik untuk membacanya. Mungkin akan dilewati aja tulisan Anda tersebut. Padahal, boleh jadi isinya sangat menarik.

Judul yang menarik, tidak saja membuat orang penasaran untuk membaca tulisan Anda, tapi juga menunjukkan kelihaian kamu dalam mengolah kata-kata.

Pastikan membuat subjudul

Subjudul amat menolong kita untuk menggolongkan dan membatasi pembahasan dalam sebuah tulisan jenis artikel dan berita. Pembaca pun dibuat mudah membaca alur tulisan yang kita rangkai. Sehingga mereka terus bertahan untuk mengikuti tulisan kita sampai habis. Mereka juga akan sangat terbantu memahami apa yang kita tulis. Itu sebabnya, sub-judul menjadi begitu penting dalam sebuah tulisan.

Subjudul dalam sebuah tulisan, juga berfungsi untuk menghilangkan kejenuhan dalam membaca. Kita juga jadi ada nafas baru untuk menyegarkan kembali tulisan yang akan kita buat. Jadi, berlatihlah untuk membagi alur dengan tanpa memenggal rangkaian dari inti tulisan kita. Itu sebabnya, membuat subjudul adalah solusi paling jitu untuk membagi alur.

Lead menggoda

Lead, alias teras berita adalah sebuah tulisan pembuka yang menjadi titik penting bagi pembaca. Lead yang menarik, sangat boleh jadi akan merangsang pembaca untuk terus membaca isi berita atau artikel yang kita buat. Jika lead-nya kurang menarik, pembaca akan mengucapkan “wassalam” saja. Mereka merasa cukup membaca sebatas judul, atau satu kalimat atau alinea di depan yang tak menarik itu. Jadi, perlu mendapat perhatian juga supaya tulisan yang kita buat mampu menggoda pembaca untuk melanjutkan bacaannya. Boleh dibilang selain judul, lead adalah jajanan yang ‘wajib’ memikat hati pembaca. Itu sebabnya, lead menjadi begitu penting, meski tidak pokok tentunya.

Maret 02, 2011

JUDUL PTK SD/MI

Penelitian Tindakan Kelas adalah salah satu syarat untuk seorang guru guna mencapai pendidikan yang relefan apalgi bagi seorang guru SD yang notebanenya mengajar anak dari 0 sampai bisa membaca dengan lancar
untuk itu perlu diadakan evaluasi kepada proses belajar mengajar yaitu dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas
berikut adalah Judul PTK SD/MI

NO
MAPEL
JUDUL

PAI Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Learning Together   Pada Siswa Kelas …. Tahun Pelajaran 2009/2010
Penerapan Methode Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Head Together  Untuk Meningkatkan  Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa Kelas… Tahun Pelajaran 2008/2009
Upaya Meningkatkan Proses Belajar Dan Hasil Belajar Fiqih Shalat Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi Pada Siswa Kelas……… SDN………. Tahun Pelajaran 2008/2009
Pembelajaran Kontestual Model Pengajaran Pemberian Balikan Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam  Pada Siswa Kelas….. Tahun Pelajaran 2008/2009
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Dalam Upaya Meningkatkan
Mutu Belajar Pendidikan Agama Islam
Pada Siswa Kelas Iv Sdn…….. Tahun Pelajaran 2009/2010
1. BHS. INDO Penguasaan Kata-kata Bersinonim dalam Menyusun Kalimat Efektif  Pada Siswa Kelas ……………………………………. Tahun Pelajaran 2005/2006
Upaya Meningkatkan Proses Belajar dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Melalui Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik Pada Siswa …………Tahun Pelajaran………………
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas……….Tahun Pelajaran……………
Metode Demonstrasi Dalam Upaya Miningkatkan Proses Belajar dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa …………Tahun Pelajaran………………
Upaya Meningkatkan Proses Belajar dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Melalui Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik Pada Siswa …………Tahun Pelajaran………………
2. B. Indonesia PENGGUNAAN BUKU BESAR (BIG BOOK) DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BACA TULIS ANAK DI SD…………………TAHUN PELAJARAN 200X/20XX
3. AQIDAH AKHLAK PENERAPAN METODE PERMAINAN DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR  AQIDAH AKHLAK MATERI ASMA’UL HUSNA PADA SISWA KELAS V MI……TAHUN PELAJARAN 2007/2008
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AQIDAH DENGAN  MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN PAKEM PADA SISWA KELAS ….
4. B. INGGRIS Membangun Pemahaman dan Penguasaan Kosakata Bahasa Inggris Melalui Permainan Pada Siswa Kelas ……………
Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation(GI) Pada Siswa Kelas ………………..Tahun Pelajaran 2001/2002
Strategi Metode Pengajaran Autentik Dalam Meningkatkan Proses Dan Hasil Belajar Bahasa Inggris Pada Siswa Kelas………………….Tahun Pelajaran 2003/2004
Pengaruh Metode Belajar Aktif Model Pengajaran Terarah Dalam Meningkatkan Prestasi Dan Pemahaman Pelajaran BAHASA INGGRIS Pada Siswa Kelas…………………..Tahun Pelajaran 2005/2006.”
Model Pembelajaran Terstruktur Dengan Pemberian Tugas Terhadap Hasil Belajar BAHASA INGGRIS Pada Siswa Kelas …………………………………. Tahun Pelajaran 2005/2006
Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share Pada Siswa ………………………………………..Tahun Pelajaran 2001/2002
Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Dengan Menerapkan Metode Kooperatif Model Jigsaw Pada Siswa Sekolah Dasar
Meningkatkan Prestasi Belajar BAHASA INGGRIS Melalui Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Head Together Pada Siswa Kelas ……………………………… Tahun Pelajaran 2004/2005
Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui Pembelajaran Kooperatif Model TAPPS  Pada Siswa Kelas ………………………………….. Tahun Pelajaran 2001/2002
Penerapan Metode Kooperatif Model TGT (Team Games Tournament) Sebagai Alternatif Meningkatkan Prestasi Belajar BAHASA INGGRIS  Pada Siswa Kelas…………………… Tahun Pelajaran 2004/2005.
5. EKONOMI Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Ekonomi Melalui Pembelajaran Kooperatif Model Learning Together Pada Siswa …………………………………………….Tahun Pelajaran
Pengembangan Pembelajaran Dengan Pemberian Balikan Terhadap Hasil Belajar Bidang Ekonomi Koperasi Pada Siswa Kelas …………………………………………………….. Tahun Pelajaran 2002/2003
6. GEOGRAFI Meningkatkan Prestasi Belajar Geografi Melalui Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Head Together Pada Siswa Kelas ……………………………… Tahun Pelajaran 2004/2005
7. IPS Pengaruh Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Kerja Kelompok Terhadap Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Pada Siswa KELAS………………Tahun Pelajaran…..
8. BHS.ARAB Penerapan Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Simulasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Arab Pada Siswa Kelas ………………………………. Tahun Pelajaran………
PENERAPAN METODE MUHADASAH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI SISWA BERLATIH BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN BAHASA ARAB PADA SISWA KELAS………………TAHUN PELAJARAN………
9. MATEMATIKA Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Pada Siswa Kelas V SDN Sukumulyo III Kec. Pujon – Malang Tahun Pelajaran 2006/2007
Upaya Membantu Siswa Mengingat Kembali Materi Pelajaran Matematika Lewat Metode Belajar Aktif Model Memberikan Pertanyaan Dan Mendapatkan Jawaban Pada Siswa Kelas ……… Tahun Pelajaran 2004/2005
Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model  Team Assisted Individualization Untuk Meningkatkan Prestasi  Belajar Matematika Pada Siswa Kelas …………………………………………..Tahun Pelajaran 2005/2006
10. QUR’AN HADITS UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN QUR’AN & HADIST DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING TOGETHER   PADA SISWA KELAS ….
Pembelajaran Kontestual Model Pengajaran Pemberian Balikan Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar QH  Pada Siswa Kelas …………….Tahun …………
11. SKI Implementasi Metode Sosio Drama Dan Bermain Peranan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Pada Siswa Kelas ………… Tahun Pelajaran….


Upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode artikulasi pada siswa kelas…….
12. FIQH Upaya Meningkatkan Proses Belajar dan Hasil Belajar Fiqih Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi Pada Siswa Kelas ……….. Kecamatan …………. Kabupaten ……….. Tahun Pelajaran
Penerapan Metode Tanya Jawab Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Belajar Pendidikan Fiqih Pada Siswa …………… Kecamatan ………. Kabupaten ……. Tahun Pelajaran……..
13. Bahasa Indonesia
UPAYA MENINGKATKAN NILAI KEPIBADIAN SISWA TAMAN KANAK-KANAK DENGAN METHODE PEMBELAJARAN MENDENGARKAN CERITA TAHUN PELAJARAN 2010 / 2011 (NEW FEBRUARI 2011)

mungkin itu dulu Judul PTK SD/MI insya allah kalau ada yang baru postingan ini akan saya update

Januari 31, 2011

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)/CLASSROOM ACTION RESEARCH

Apakah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) itu ?

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.

Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.

PTK memeliki sejumlah karakteristik sebagai berikut :

Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian.

Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan "sekali tembak" selesai pelaksanaannya.

Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.

Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula.

Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti.

Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.

Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.

Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.

Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.

Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

Tujuan PTK sebagai berikut :

  • Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.
  • Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
  • Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu.
  • Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.
  • Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.
  • Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.
  • Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.
Manfaat PTK

  • Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
  • Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung professionalisme dan karir guru.
  • Mampu mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
  • Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.
  • Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan , kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswa pun dapat meningkatkan.
  • Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.

Prosedur Pelaksanaan PTK
  1. Menyusun proposal PTK. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok, yaitu; (1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai metode atau cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya, (4) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun persfektif, konsep, dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK, (8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK.
  2. Melasanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi. baik pelaksanaan tindakan, pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beiringan, bahkan bersamaan. Semua hal yang berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.
  3. Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan, pelaksnaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulan dan rumusan saran.
  4. Menulis laporan PTK, yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil-hasil PTK. Paparan hasil PTK ini disatukan dengan deskripsi masalah, rumusan masalah, tujuan, dan kajian konsep atau teoritis. Inilah laporan PTK.
Demikian artikel tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dari www.mirat.cc.cc mudah-mudahan bisa menambah referensi buat sahabat semua

Desember 23, 2010

Pengelolaan Sarana dan Sumber Belajar

Seorang Guru harus bisa menggunakan dan mengelola sarana dan sumber belajar dari fakta yang ada seorang guru hanya mengandalkan buku sumber saja seharusnya Sebaiknya guru menggunakan berbagai jenis media pembelajaran dan memanfaatkannya secara tepat, yakni disesuaikan dengan pengalaman belajar yang akan ditempuh siswa dan kesiapan siswa secara mental dan intelektual, sehingga dapat memperjelas informasi dan konsep yang sedang dipelajari.
Beberapa karakteristik sarana yang efektif sarana yang efektif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1)Menarik perhatian siswa
2)Meletakan dasar-dasar untuk memahami sesuatu hal secara konkrit yang sekaligus mecegah atau mengurangi verbalisme
3) Merangsang tumbuhnya pengertian dan atau usaha pengembangan nilai-nilai
4) Berguna dan multifungsi
5) Sederhana, mudah digunakan dan dirawat, dapat dibuat sendiri oleh guru ataudiambil dari lingkungan sekitar.

Sumber belajar utama yang dapat digunakan antara lain sumber belajar cetakan, sumber belajar elektonik (audio, audio visual, internet) dan lingkungan sekitar (sosial, alam, budaya)
Dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Sarana dan Prasarana diantaranya dijelaskan:

1)Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar laiunnya, bahan habis pakai serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
2)Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi: lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruiang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.,

Pembelajaran Bermakna

pembelajaran bermaknaPembelajaran bermakna merupakan kegiatan pembelajaran yang menitikberatkan pada kegunaan pengalaman belajar bagi kehidupan nyata siswa. Dalam hal ini guru dituntut mampu meyakinkan secara realistik suatu pengalaman belajar secara aktif dan dapat memotivasi belajar yang tinggi kepada siswa.
Menurut Puskur Depdiknas(Sukmara, 2007) tahapan-tahapannya adalah seperti berikut:

a)Pemanasan-Apersepsi
Pada wal kegiatan pembelajaran guru harus memperhatikan hal-hal berikut:
(1)Pelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami siswa
(2)Motivasi siswa ditumbuhkan dengan bahan ajar yang menarik dan berguna
(3)Siswa didorong untuk mengetahui hal-hal yang baru.

b)Eksplorasi
Pengembangan sejumlah pengalaman belajar hendaknya memperhatikan:
(1)Keterampilan baru yang diperkenalkan
(2)Kaitan materi/pengalaman belajar dengan pengetahuan yang sudah ada pada siswa.
(3)Pilih metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan daya serap siswa terhadap pengalaman baru yang disajikan.

c)Konsolidasi Pembelajaran
Pemantapan pengalaman belajar siswa dapat dilakaukan dengan:
(1)Melibatkan siswa secara aktif dalam menafsirkan dan memahami pengalaman atau materi baru.
(2)Melibatkan siswa secara aktif dalam pemecahan masalah.
(3)Menekankan pada kaitan struktural, yaitu kaitan antara materi pengalaman baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan di dalam liungkungan
(4)Pilih metoodologi yang tepat sehingga pengalaman baru dapat terproses menjadi bagian dari kehidupan siswa sehari-hari

d)Pembentukan Sikap dan Prilaku
Proses internalisasi suatu pengalaman baru dapat dilakukan dengan:
(1)Mendorong siswa menerapkan konsep atau pengertian baru yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari
(2)Membangun sikap dan prilaku baru dalam kehidupan siswa sehari-hari berdasarkan pengalaman belajarnya
(3)Pilih metodologi yang tepat agar terjadi perubahan pada sikap dan prilaku siswa menuju perubahan yang lebih

e)Penilaian Formatif
Untuk menentukan efektivitas serta keberhasilan proses pembelajaran dapat dilakukan hal-hal berikut:
(1)Kembangkan cara-cara menilai hasil pembelajaran siswa secara variatif
(2)Gunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan atau kekurangan dan masalah-masalah yang dihadapi baik oleh siswa maupun guru
(3)Pilih metodologi penilaian yang paling tepat dan sesuai dengan tujuan yang mesti dicapai

Desember 07, 2010

Pembelajaran Bermakna

pembelajaran bermaknaPembelajaran bermakna merupakan kegiatan pembelajaran yang menitikberatkan pada kegunaan pengalaman belajar bagi kehidupan nyata siswa. Dalam hal ini guru dituntut mampu meyakinkan secara realistik suatu pengalaman belajar secara aktif dan dapat memotivasi belajar yang tinggi kepada siswa.
Menurut Puskur Depdiknas(Sukmara, 2007) tahapan-tahapannya adalah seperti berikut:
a) Pemanasan-Apersepsi
Pada wal kegiatan pembelajaran guru harus memperhatikan hal-hal berikut:
(1) Pelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami siswa
(2) Motivasi siswa ditumbuhkan dengan bahan ajar yang menarik dan berguna
(3) Siswa didorong untuk mengetahui hal-hal yang baru.

b) Eksplorasi
Pengembangan sejumlah pengalaman belajar hendaknya memperhatikan:
(1) Keterampilan baru yang diperkenalkan
(2) Kaitan materi/pengalaman belajar dengan pengetahuan yang sudah ada pada siswa.
(3) Pilih metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan daya serap siswa terhadap pengalaman baru yang disajikan.

c) Konsolidasi Pembelajaran
Pemantapan pengalaman belajar siswa dapat dilakaukan dengan:
(1) Melibatkan siswa secara aktif dalam menafsirkan dan memahami pengalaman atau materi baru.
(2) Melibatkan siswa secara aktif dalam pemecahan masalah.
(3) Menekankan pada kaitan struktural, yaitu kaitan antara materi pengalaman baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan di dalam liungkungan
(4) Pilih metoodologi yang tepat sehingga pengalaman baru dapat terproses menjadi bagian dari kehidupan siswa sehari-hari

d) Pembentukan Sikap dan Prilaku
Proses internalisasi suatu pengalaman baru dapat dilakukan dengan:
(1) Mendorong siswa menerapkan konsep atau pengertian baru yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari
(2) Membangun sikap dan prilaku baru dalam kehidupan siswa sehari-hari berdasarkan pengalaman belajarnya
(3) Pilih metodologi yang tepat agar terjadi perubahan pada sikap dan prilaku siswa menuju perubahan yang lebih

e) Penilaian Formatif
Untuk menentukan efektivitas serta keberhasilan proses pembelajaran dapat dilakukan hal-hal berikut:
(1) Kembangkan cara-cara menilai hasil pembelajaran siswa secara variatif
(2) Gunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan atau kekurangan dan masalah-masalah yang dihadapi baik oleh siswa maupun guru
(3) Pilih metodologi penilaian yang paling tepat dan sesuai dengan tujuan yang mesti dicapai

Bagaimana Mendurut anda tentang Pembelajaran bermakna tolong berikan Kritik dan sarannya

Pengembangan Metode dan Teknik Pembelajaran

pengembangan metode dan tehnik pembelajaranDalam perkembangan di dunia pendidikan Pengembangan Metode dan Teknik Pembelajaran sangat pesat dan para pakar pendidikan pun lebih giat memikirkan metode apa yang akan di gunakan dalam pembelajaran
Sesuai dengan cara penggunaannya, metode pembelajaran dikalangan pendidikan diantaranya:
  1. Metode ceramah, inti kegiatannya adalah memberikan orientasi atau penjelasan mengenai suatu definisi, pengertian, konsep, hukum, dan sejenisnya. Metode ceramah akan efektif apabila digabungkan dengan metode lainnya.
  2. Metode demonstrasi, yaitu pengajar melakukan peragaan suatu proses, suatu kerja, keterampilan tertentu, atau suatu penampilan, dihadapan pembelajar.Metode demonstrasi, terdiri atas metode demonstrasi pasif (pembelajar hanya mengamati) dan metode demonstrasi aktif (sebagian pembelajar mencoba mendemonstrasikan kembali). Penggunaan metode demonstrasi aktif dapat mempertinggi retensi dan metode ini sangat sesuai untuk mengajarkan ketrerampilan proses, penampilan, dan kerja.
  3. Metode diskusi, dapat diterapkan sebagai diskusi kelas atau kelompok. Diskusi akan lebih baik apabila dilakukan dalam kelompok. Dalam kegiatan diskusi menghasilkan interaksi antara siswa dengan siswa dan gguru dengan siswa
  4. Metode tutorial, lebih cenderung sebagai kegiatan melajar mandirii. Bahan ajar diberikan kepada pembelajar untuk dikembangkan. Selama melaksanakan pengembangan bahan ajar, pembelajar diberi kesempatan untuk konsultasi dengan pengajar.
  5. Metode simulasi, mewajibkan kepada pembelajar untuk melakukan simulasi tentang suatu peran, kegiatan khusus atau ,menggunakan simulator.
  6. Metode praktikum, menitikberatkan pada kegiatan untuk melakukan pengamatan, percobaan, pengumpulan data, yang dilakukan di laboratorium atau ditempat lain yang disamakan dengan laboratorium atau workshop.
  7. Metode proyek, pada umumnya sama dengan metode praktikum, akan tetapi pelaksanaannya memerlukan perencanaan (proposal) yang mencakup rancangan, penjadwalan, kebutuhan bahan, dan sebagainya.
Bagaimana menurut anda tentang Pengembangan Metode dan Teknik Pembelajaran silahkan beerikan kritik dan sarannya di kotak Komentar

Karakteristik Pembelajaran

Dalam Pembinaan terhadap anak didik seorang pendidik harus tau karakteristik dari seorang anak didik dalam pembelajaran dan harus menguasai karakteristik dari seorang anak dalam pembelajaran
Sebeneranya karateristik pembelajaran sangat banyak dan intinya adalah sebagai berikut
Karakteristik dari kegiatan pembelajaran meliputi:
  1. Proses pembelajaran memiliki tujuan, yakni membantu siswa dalam suatu perkembangan tertentu.
  2. Adanya suatu prosedur yang direncanakan, dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Adanya kegiatan penggarapan materi tertentu secara khusus sehingga dapat mencapai tujuan.
  4. Adanya aktivitas siswa sebagai syarat mutlak bagi berlangsungnya proses pembelajaran.
  5. Guru berperan sebagai pembimbing yang berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
  6. Membutuhkan adanya komitmen terhadap kedisiplinan sebagai pola tingkah laku yang diatur menurut ketantuan yang ditaati semua pihak secara sadar.
  7. Adanya batas waktu untuk menentukan tingkat pencapaian siswa.
bagamana menurut anda silahkan share di komen ya tentang karateristik pembelajaran

Komponen Pembelajaran

Komponen Pembelajaran merupakan hal penting dalam mendidik siswa didik untuk mencapai kesuksesan.
Ada empat komponen utama dalam kegiatan pembelajaran (perhatikan bagan pada bagian akhir makalah ini), yaitu:
  1. Hasil belajar (Expected Output) menunjukkan kepada tingkat kualifikasi ukuran baku (Standaring Norms) menjadi sasaran sekaligus tujuan yang mesti dicapai melalui berbagai kegiatan pengalaman siswa secara utuh, menyeluruh dan terpadu. Hasil belajar yang efektif tidak hanya menekankan pada salah satu dari ketiga orientasi hasil belajar (kognitif, afektif, dan psikomotor), melainkan keseimbangan dalam pengembangan -nya secara proporsional.
  2. Karakteristik siswa (Raw Input) merupakkan dasar dan landasan dalam pengembangan kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran akan efektif apabila mengacu pada karakteristik siswa, terutama berkenaan dengan potensi dasar yang dimilikinya. Di samping itu berkenaan dengan aspek-aspek individual dan kepribadian, baik bersifat fisiologis maupun psikologis.
  3. Sarana Prasarana (Instrumental Input) merupakan kelengkapan dari fasilitas yang diperlukan dalam memberikan sejumlah pengalaman belajar kepada para siswa, baik hal-hal yang bersifat teoritis, teknis maupun hal lainnya yang bersifat praktis.
  4. Lingkungan (enverionmental Input) menunjukkan pada situasi dan keadaan fisik, lingkungan sosial dan budaya yang mengitari tempat berlangsungnya proses pembelajaran, baik aspek lingkungan yang bersifat aktif maupun aktif. Dalam pengembangan pengalaman belajar, lingkungan sekaligus merupakan sumber bagi kegiatan belajar siswa.

Prinsip Pembelajaran

Beberapa prinsip pembelajaran yang dikembangkan dalam Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) guna menunjang hasil belajar yang efektif dan efisien adalah:
  1. Kesempatan belajar, yaitu kegiatan pembelajaran perlu menjamin pengalaman siswa untuk secara langsung mengamati dan mengalami proses, produk, keterampilan, dan nilai yang diharapkan.
  2. Pengetahuan awal siswa, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang dikaitkan dengan pengetahuan awal siswa yang disesuaikan dengan keterampilan dan nilai yang dimiliki siswa sambil memperluas dan menunjukkan keterbukaan pada cara pandang dan cara tindak sehari-hari.
  3. Refleksi, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar bermakna yang mampu mendorong tiundakan (aksi) dan renungan (refleksi) pada setiap siswa.
  4. Motivasi, kegiatan pembelajaran harus mampu menyediakan pengalaman belajar yang memberi motovasi dan kejelasan tujuan.
  5. Keragaman Individu, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang yang berkaitan dengan karakteristik siswa yang relatif berbeda
  6. Kemandirian dan Kerjasama, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk belajar mandiri, maupun melalui kerjasama.
  7. Suasana yang mendukung, sekolah dan kelas perlu diatur lebih aman dan lebih kondusif untuk menciptakan sistuasi supaya siswa belajar efektif.
  8. Belajar untuk kebersamaan, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk memiliki simpati, empati, dan toleransi pada orang lain.
  9. Siswa sebagai pembangun gagasan, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang mengakomodasi pandangan bahwa pembangun gagasan adalah siswa, sedangkan guru hanya sebagai penyedia kondisi supaya peristiwa belajar berlangsung.
  10. Rasa ingin tahu, kreativitas, dan ketuhanan, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang memupuk rasa ingin tahu, mendorong kreativitas, dan selalu mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
  11. Menyenangkan, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang menyenagkan siswa.
  12. Interaksi dan komunikasi, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang meyakinkan siswa terlibat secara aktif secara mental, fisik, sosial.
  13. Belajar cara belajar , kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang memuat keterampilan belajar, sehingga siswa trampil belajar bagaimana belajar (learn to learn)

Juni 14, 2010

pengertian kepemimpinan

Pada Malam Ini saya akan menjelaskan Pengertian Kepemimpinan
Keberhasilan dan kegagalan pencapaian tujuan organisasi dalam suatu organisasi sangat bergantung pada faktor kepemimpinan. Untuk itu, dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan kegiatan orang untuk mempengaruhi orang lain dalam suatu organisasi baik organisasi swasta maupun organisasi publik. Berikut ini akan diberikan beberapa pengertian atau definisi dari kepemimpinan yang dikemukakan oleh beberapa ahli dan penulis Menurut Mulia Nasution (2000 : 224) mengemukakan bahwa :


“Kepemimpinan adalah suatu usaha untuk mempengaruhi orang per orang, lewat komunikasi untuk dapat mencapai satu atau beberapa tujuan”.
Menurut Malayu SP. Hasibuan (2000 : 167) mengemukakan bahwa :
“Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan atau pegawainya, agar mau bekerja secara produktif untuk mencapai hasil yang maksimal agar tujuan organisasi tercapai”.

Defisini kepemimpinan menurut Joseph C. Rost (1993) yang dikutip Triantoro Safaria (2004 : 3) mengemukakan kepemimpinan adalah :



“Sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di antara pimpinan dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata di organisasi yang mencerminkan tujuan bersama”
.

Tetapi salah satu titik tolak dalam merumuskan definisi kepemimpinan dapat berangkat dari pendekatan yang bersifat perilaku. Berdasarkan pendekatan yang bersifat perilku tersebut Wahyusumidjo (2003 : 26) mengemukakan definisi kepemimpinan adalah :
“Kepemimpinan adalah seseorang mempengaruhi perilaku orang lain untuk berpikir dan berprilaku dalam rangka perumusan dan pencapaian tujuan organisasi dalam situasi tertentu”.

Dari beberapa definisi kepemimpinan seperti yang dikemukakan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan tentang definisi kepemimpinan, yaitu kepemimpinan adalah suatu Kepemimpinan yang dimiliki oleh seseorang (pemimpin) dalam upaya mempengaruhi orang lain/kelompok lain agar mau berfikir dan atau berperilaku/bertindak dan atau bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Demikianlah Pengertian Kepemimpinan menurut saya kalau menurut anda seperti apa

Maret 17, 2010

Sepenting apakah Pengajaran Bahasa Asing Pada Anak Usia Dini

Ibu sinta dan Pak Yusuf Khawatir kepada Muhammad Yang masih berumur 3 tahun yang belum lancar berbicara seperti teman-teman sebayanya. Ia hanya bisa mengucapkan sepatah dua patah kata yang kadang tak jelas bunyinya. Itupun, seringkali gagap. Setelah berkonsultasi ke ahlinya, terungkap bahwa Muhammad tidak mampu menyerap Pengajaran Bahasa di rumah. Diduga, Ibu Sinta terlalu memaksakan mengajar bahasa Ibu (Indonesia) dan Bahasa Inggris pada Muhammad, Alasannya agar Muhammad dapat segera menguasai bahasa ayahnya yang berkewarganegaraan Inggris.
Lain lagi cerita Ibu Enung Dan Ust. Nasir. Mereka biasa menggunakan dua bahasa di rumah. Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia. Sementara keluarga besar mereka menggunakan bahasa Sunda. Kini Fahd yang berumur 12 tagun sudah lancar dengan 3 bahasa, dengan ayahnya menggunakan bahasa Arab di sekolah Bahasa Indonesia dan di rumah Bahasa Sunda.
Saat ini muncul kecenderungan orangtua mengajarkan bahasa Asing pada anak sejak usia dini. hal ini juga di dukung dengan beragam kursus bahasa asing untuk anak yang semakin hari semakin banyak saja, ada yang sederhana tanpa promosi ada juga yang Online alias Promosi baik di media cetak, Televisi bahkan sekarang bisa promosi di website baik itu di website pribadi, blog atau website sosialbaik itu di facebook, twiter, myspace, atau yang lainnya.
dan fasilitasnyapun sangat beragam ada yang menawarkan metode yang menarik dengan berbagai permainan, ada pula yang menawarkan native spiker langsung dari negeri asal.
Agaknya tren Globalisasi ikut "memaksa" orangtua membekali anak dengan bermacam-macam bahsa diluar bahasa ibu. tetapi, kapan sebenarnya saat yang tepat mengajarkan bahasa asing pada anak?
Mari Kita bahas satu persatu ok....
Disini Ada pro dan kontra tentang masalah tadi anak harus belajar dan menguasai bahasa ibu terlebih dahulu sampai artikulasi (pengucapan) dan semantik (pemahaman akan makna kata)-nya baik.
Sesudh anak menguasai bahasa ibu dengan baik, tambahan bhasa lain akan diterima dengan mudah, orang tua diminta memperhatikan hal ini agar tidak terjadi overlap bahasa yang akan membuat anak bingung, selain itu, mengajarkan lebih dari satu bahasasecara bersamaan dikhawatirkan akan membuat anak justru tidak akan menguasai kedua bahasa tersebut.
Tetapi ahli yang pro pada pengajaran bahasa asing sejak usia dini berpendapat laijn. sejak lama manusia diketahui memiliki du belahan otak. otak kanan lebih menekankan aspek emosi dan rasa. sedang otak kiri menekankan kecerdasan intelektual, analisa dan pemahaman bahasa. masa sebelum otak membelah adalah masa kritis bagi anak untuk menerima pemahaman bahasa.
Para Ahli yang pro meyakini bahwa masa pembelahn terjadi sekitar usia lima tahun, karenanya mengajarkan bahasa baik dilakukan sedini mungkin karena pada masa balita otak anak masih lentur untuk mudah menerima pengajaran bahasa. disamping anak-anak pun masih sangat kritis untuk mudah menangkap pelajaran bahasa secara cepat.
Metode yang tepat dari pro dan kontra dari masalah di atas adalah menurut Eva Septiana barianto Psikolog yang mengasuh bimbingan psikologi di SD Lab Scool Jakarta. mengatakan bahwa keputusan untuk mengajarkan bahasa asing pada anak tergantung pada kebijaksanaan orang tua, meski demikian kata eva, orang tua harus memperhatikan tujuan awal pengajaran, kesiapan dan kecerdasan anak. "Anak yang belajr bahasa karena ambisi orang tuatentunya akan merasa tertekan karena merasa beban terlalu berat. Apalagi kalau kecerdasannya memang rendah", Pengajaran bahasa sebaiknya dilakukan selamiah mungkin, tanpa pemaksaan. cara yang efektif mengajarkan bahasa Asing adalah lewat bermain. terutama untuk anak usia 4 - 6 tahun, satu hal yang tak kalah penting untuk di perhatikan orang tua adalah bagaimana membuat anak happy dan tidak merasa terbebanisaat belajar. dan untuk menghiburnya selaku orang tua harus siap dengan yang namanya hadiah dan pujian untuk memotivasi anak supaya dapat berkembang.
Untuk Guru TK dalam pengajaran bahasa asing hanya terbatas pada kosa kata sehari-hari yang pendek. isalnya It is a cat. It's name is Kitty. anak-anak pasti tahu artinya, ini adalah kucing, namanya Kitty. tetapi mereka belum tahu bentuk kalimat adalah present tense, dengan cat berkedudukan sebagai noun, dan seterusnya. tahap lanjutan seperti grammar, sintaksis dan lain-lainnya baru mungkin diajarkan paada usia SD.
Penyerapan bahsa juga amat terkait dengan kemampuan intelektual anak. menurut Eva, Ada anak-anak berbakat yag memilki kemampuan bahasa lebih dari anak-anak seusianya.
Anak yang mempunyai kemampuan lebih biasanya juga memilki kemampuan intelektual yang baik, karena kemampuan intelektualtidak hanya dilihat dari IQ (intelektual Quotion) namun juga dari sudut EQ (Emotional Quotion).
Anak berkemampuan rendah tetapi tetap dipaksakan belajar bahasa asing berbarengan dengan belajar bahasa ibu biasanya malah akan ngambek dan gugup.
alih-alih mau mengajarkan bahasa asing sang anak malah menjadi sangat tidak komunikatif.
Jadi semua pilihan Kembali pada anda, yang penting pilih cara yang tepat bagi usia dan kemampuan anak.
bagaimana menurut anda sepenting apakah Pengajaran Bahasa Asing Pada Anak Usia dini

Oktober 14, 2009

KONSEP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN



1. MAKNA BELAJAR DAN MENGAJAR
Belajar dan mengajar adalah dua aktivitas yang hampir tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya, terutama dalam prakteknya di sekolah-sekolah. Bahkan apabila keduanya telah digerakkan secara sadar dan bertujuan, maka rangkaian interaksi belajar-mengajar akan segera terjadi. Sehubungan dengan hal ini ada baiknya kedua istilah tersebut untuk dibahas.
A. Belajar
Kita masih ingat bahwa “belajar” pernah dipandang sebagai proses penambahan pengetahuan. Bahkan pandangan ini mungkin hingga sekarang masih berlaku bagi sebagian orang di negeri ini. Akibatnya, “mengajar” pun dipandang sebagai proses penyampaian pengetahuan atau keterampilan dari seorang guru kepada siswanya.
Pandangan semacam itu tidak terlalu salah, akan tetapi masih sangat parsial, terlalu sempit, dan menjadikan siswa sebagai individu-individu yang pasif. Oleh sebab itu, pandangan tersebut perlu diletakkan pada perspektif yang lebih wajar sehingga ruang lingkup substansi belajar tidak hanya mencakup pengetahuan, tetapi juga keterampilan, nilai dan sikap.
Sebagai landasan pembahasan mengenai apa yang dimaksud dengan belajar, berikut ini kami kemukakan beberapa definisi belajar yang dikemukakan oleh Drs.M.Ngalim Purwanto.MP (1990).
a) Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975). “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang ( misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya ).”
b) Gagne, dalam buku The conditions of Learning (1977). “ Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya ( performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
c) Morgan, dalam buku Introduction to Psychology (1978). “ Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.”
d) Witherington,dalam buku Educational Psychology. “ Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yan menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.”
Dari definsi-definisi yang dikemukakan diatas, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang merincikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa :
a)Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b)Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman : dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
c)Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap; harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lam periode waktu itu berlangsung sulit dtentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Ini berarti kita harus mengenyampingkan perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya berlangsung sementara.
d)Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: Perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah / berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
B.Mengajar
Pada uraian di atas telah dikemukakan bahwa istilah belajar pernah dipandang sebagai proses penambahan pengetahuan. Senada dengan nuansa penafsiran terhadap belajar seperti itu, maka “mengajar “ pun pernah dianggap sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan. Pandangan demikian membawa konsekuensi logis terhadap situasi belajar –mengajar yang diwujudkan oleh guru, yakni proses belajar-mengajar (PBM) yang terjadi di dalamnya bersifat teacher-centered. Pengajaran menjadi berpusat pada guru mengajar lebih dominan daripada belajar. Guru berperan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa (information givers) atau dengan nama lain sebagai instructor. Oleh sebab itu, sumber belajar yang digunakan, maksimal hanya sebatas apa yang ada diantara dua kulit buku dan empat dinding kelas. Bahkan, banyak diantara mereka yang menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar. Akibatnya, siswa-siswa menjadi individu-individu yang pasif, kedaulatan merekapun pada akhirnya harus tunduk pada kekuasaan guru. Mereka tidak dididik untuk berfikir kritis, berlatih menemukan konsep atau prinsip, ataupun untuk mengembangkan kreatifitasnya. Mereka tidak dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan yang perubahan-perubahannya sangat cepat, bahkan dapat terjadi dalam hitungan detik seperti sekarang ini. Hal ini bisa terjadi pada masa mendatang, karena dengan penerapan konsep mengajar semacam itu, siswa-siswa tidak dididik untuk belajar sebagai manusia seutuhnya, sementara kita berharap agar kelak siswa-siswa menjadi orang-orang yang terdidik, tidak sekedar tersekolah atau belajar.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka mengajar sepantasnya dipandang sebagai upaya atau proses yang dilakukan oleh seorang guru untuk membuat siswa-siswanya belajar. Dalam hal ini guru berupaya untuk membelajarkan siswa-siswanya, dan sebaliknya para siswa menjadi pembelajar-pembelajar yang aktif, kritis dan kreatif. Dengan cara ini interaksi belajar mengajar dapat terjadi, dan pengajaran tidak lagi bersifat teacher-centered, karena telah bergeser pada kontinum pengajaran yang lebih bersifat student-centered. Pertanyaan selanjutnya, yang menggelitik kita selaku guru yang bertugas pada era informasi ini yaitu : Apakah diantara kita yang terlanjur telah menerapkan pengajaran bersifat teacher-centered akan segera berubah kearah student-centered ?
2. MAKNA PEMBELAJARAN
Istilah pembelajaran mengundang berbagai kontroversi diberbagai kalangan pakar pendidikan, terutama di antara guru-guru di sekolah. Hal ini disebabkan oleh demikian luasnya ruang lingkup pembelajaran, sehingga yang menjadi subyek belajar atau pembelajarpun bukan hanya siswa dan mahasiswa, tetapi juga peserta penataran/pelatihan atau pendidikan dan pelatihan (diklat), kursus, seminar, diskusi panel, symposium, dan bahkan siapa saja yang berupaya membelajarkan diri sendiri.
Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatau system atau proses membelajarkan subyek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subyek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien (Depdiknas,Model pembelajaran IPA SD,2003). Dengan demikian, jika pembelajaran dianggap sebagai suatu system, maka berarti pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran. Sebaliknya bila pembelajaran dianggap sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. Proses tersebut dimulai dari merencanakan program pengajaran tahunan, semester, dan penyusunan persiapan mengajar (lesson plan) berikut penyiapan perangkat kelengkapannya antara lain alat peraga, dan alat-alat evaluasi. Persiapan pembelajaran ini juga mencakup kegiatan guru untuk membaca buku-buku atau media cetak lainnya yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan disajikan kepada para siswa dan mengecek jumlah dan keberfungsian alat peraga yang akan digunakan.
Setelah persiapan tersebut, guru melaksanakan kegiatan-kegiatan pembelajaran dengan mengacu pada persiapan pembelajaran yang telah dibuatnya. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, struktur dan dan situasi pembelajaran yang diwujudkan guru akan banyak dipengaruhi oleh pendekatan atau strategi dan meode-metode pembelajaran yang telah dipilih dan dirancang penerapannya, serta filosofi kerja dan komitmen guru yang bersangkutan, persepsi, dan sikapnya terhadap siswa. Jadi semuanya itu akan menentukan terhadap struktur pembelajaran.




September 21, 2009

AYAH

Dalam dunia modern ini, peran ayah sebagai kepala keluarga sering terfokus pada usaha untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, terutama keuangan. Dengan demikian, tak jarang seorang ayah harus membanting tulang mencari nafkah keluarga dan pulang dalam keadaan lelah tanpa memiliki kesempatan banyak untuk berinteraksi dengan istri dan anak-anak. Fenomena ini akan lebih terasa di kota besar dengan tekanan hidup yang lebih tinggi. Belum lagi ditambah kemacetan yang semakin parah membuat seorang ayah banyak kehilangan waktu berharganya untuk berinteraksi dengan anak.
Berdasarkan sebuah penelitian, peran ayah sangat penting dalam membangun kecerdasan emosional anak. Seorang ayah sebagai kepala keluarga sekaligus pengambil keputusan utama dalam keluarga memiliki posisi penting dalam mendidik anak. Seorang anak yang dibimbing oleh ayah yang peduli, perhatian dan menjaga komunikasi akan cenderung berkembang menjadi anak yang lebih mandiri, kuat, dan memiliki pengendalian emosional yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak memiliki ayah seperti itu.
Hal ini bukan berarti mengabaikan peran sama yang dimiliki oleh seorang ibu. Secara natural biasanya seorang ibu akan terlibat aktif dalam membesarkan anaknya, sedangkan seorang ayah belum tentu mengambil peran yang sama. Posisi ayah biasanya tergantung sejauh mana dia melihat peran pentingnya dan kemudian memutuskan untuk terlibat. Karenanya dalam beberapa penelitian menunjukkan peran ayah memegang kunci yang menentukan bagaimana kondisi anaknya ketika besar nanti.
Dalam masyarakat kita, disadari atau tidak ada semacam perbedaan antara peran ayah dan ibu. Sering kali seorang ayah dipersepi cukup baik jika telah bertanggung jawab untuk pemenuhan urusan keuangan keluarga. Adapun urusan pengasuhan dan pendidikan anak lebih banyak dipegang oleh seorang ibu. Ibulah yang memandikan, mengganti popok, menggendong, atau membujuk ketika anak menangis. Secara umum tugas-tugas tadi dianggap sebagai kewajiban alami seorang ibu. Sedangkan ayah cukup melakukannya sesekali dan itu pun kalau dia punya waktu di tengah kesibukan pekerjaannya. Seorang ayah yang tidak melakukannya masih dianggap wajar saja.
Tak jarang seorang ayah yang kelelahan dan tertekan di pekerjaan malah membawa kemarahan dan ketidaknyamanan bagi anak-anaknya di rumah. Anak yang ingin mengajak bermain dianggap mengganggu istirahat, anak yang ingin dekat secara emosional dianggap terlalu manja, atau anak yang bertanya dijawab seadanya sehingga akhirnya akan timbul jarak antara seorang ayah dengan anaknya.
Menciptakan Kedekatan Ayah dan Anak
Menciptakan kedekatan antara seorang ayah dengan anak adalah sebuah investasi yang sangat berharga. Anda akan menyesal jika tidak memulainya sejak awal dan baru merasakan sesuatu yang ganjil ketika anak mulai besar. Hubungan Anda dan anak akan terasa kaku, formal dan berjarak. Hal ini sering terlupakan oleh seorang ayah yang memiliki kesibukan tinggi sehingga baru menyadari ada yang salah antara hubungannya dengan anak setelah beberapa waktu kemudian dan itu mungkin sudah terlambat. Pernahkah Anda mendengar cerita seorang ayah yang sibuk berangkat pagi dan pulang malam, suatu hari pulang lebih awal dan anaknya ketakutan karena merasa ayahnya adalah orang asing yang tidak dikenal?
Peran ayah untuk memenuhi nafkah keluarga adalah pekerjaan mulia. Pekerjaan tersebut dalam banyak hal juga menyita waktu dan energi yang tidak sedikit. Walaupun demikian, bukan berarti menjadi alasan untuk tidak menyediakan waktu yang cukup untuk menjalin kedekatan dan menjadi pelatih emosi bagi anak-anak Anda.
Jika Anda seorang ayah, berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menciptakan kedekatan dengan anak sekaligus menjadi pelatih emosi yang baik bagi sang anak.
1. Terlibat dalam pengasuhan dan perawatan anak
Mulailah membiasakan diri untuk berbagi tugas dan terlibat langsung dalam pengasuhan dan perawatan anak. Atur jadwal dengan istri kapan giliran Anda bertugas memandikan anak, mengganti popoknya, membuatkan susu, menemani sang anak ketika sulit tidur, membacakan cerita pengantar sebelum tidur, berdiskusi tentang apa yang dialami sang anak bersama teman-temannya serta menjalin komunikasi untuk membantu sang anak melihat persoalan yang dialaminya. Dengan terlibat langsung dalam pengasuhan dan perawatan, akan terjalin hubungan emosional antara Anda dan anak. Ada kedekatan yang muncul dan sang anak akan bisa merasakan perhatian ayahnya.
Mungkin Anda sudah terlalu lelah ketika pulang kerja. Atau Anda berangkat sangat pagi dan pulang sudah larut malam. Jika demikian situasinya maka carilah momen-momen di mana Anda bisa menjalin kedekatan seperti ketika makan bersama, berkomunikasi ketika mengantar anak ke sekolah, menyediakan waktu di akhir minggu untuk bercengkrama, berdialog dan saling membina kedekatan. Ingat ada hal yang berbeda ketika Anda mengajak jalan-jalan anak di akhir minggu tanpa terlibat secara emosional dibandingkan dengan melakukan aktivitas bersama yang saling mendekatkan satu sama lain.
2. Ikut bermain bersama anak
Adakalanya anak mengajak bermain, maka ikutilah permainannya dengan sepenuh hati. Ada banyak bahasa tak tersurat yang tersampaikan ketika seorang ayah ikut menemani anaknya bermain dan berperan sebagai teman sekaligus pelindung bagi sang anak. Jangan sampai karena kesibukan Anda membuat kegiatan bermain ini dialihkan kepada istri atau malah orang lain seperti baby sitter dan pembantu.
Ada permainan yang berbeda yang dirasakan anak ketika bermain dengan ayahnya dibandingkan dengan ibu. Lewat ayah anak akan mengenal permainan yang melibatkan kontak fisik atau aktivitas luar ruangan yang lebih menguras energi. Permainan ini sangat membantu anak untuk melatih keberanian dan kemandirian selama sang ayah tidak memaksakan dan terlalu mengatur dalam permainan-permainan tersebut. Berilah kesempatan sang anak untuk bereksplorasi dan membuat keputusan dalam permainannya sambil sesekali Anda terlibat dan memberi penjelasan untuk membantunya membuat keputusan.
3. Kenali siapa teman anak Anda
Siapa saja teman bermain anak Anda? Tahukah Anda siapa namanya? Di mana tinggalnya? Apa kegiatan yang dilakukan anak Anda bersama mereka? Seorang ayah yang baik mengenal dengan siapa saja anaknya bergaul. Ayah memberi arahan sekaligus menjadi teman diskusi bagi anak untuk menceritakan pengalamannya bersama teman, kekhawatirannya, dan kegembiraannya. Dengan mengenal teman-temannya maka Anda mendapatkan informasi yang jauh lebih banyak tentang anak Anda sehingga lebih sedikit yang perlu dikhawatirkan. Anda juga akan mengenali bahasa “pergaulan” anak Anda.
Di tengah pergaulan sekarang yang relatif kurang kondusif, mengenal teman main anak Anda akan menjadi benteng berharga. Anda akan tahu apa yang dipelajari sang anak dari temannya. Sebagai ayah Anda bisa menjadi penengah dan penyeimbang informasi. Kasus anak-anak yang terlibat narkoba atau penyimpangan lainnya sering dimulai dari pergaulan dengan teman-temannya. Sang anak tidak pernah mendapat informasi dari ayah ibunya dan ketika dia sedang mencoba-coba berbagai hal, datanglah teman-temannya yang mengambil kontrol dan memberi pengaruh buruk.
4. Menjalin komunikasi yang membangun
Mungkin Anda merasa sudah berkomunikasi dengan anak dengan menanyakan bagaimana kabarnya di sekolah, apa yang dia pelajari, atau bagaimana hasil ujiannya kemarin. Jika Anda menanyakan hal tersebut hanya sekadar ingin tahu atau sebagai basa-basi pembicaraan, maka komunikasi tersebut hanya membawa dampak yang terbatas.
Menjalin komunikasi yang dimaksud di sini adalah komunikasi yang intensif di mana ada proses saling percaya satu sama lain. Di sinilah peran ayah sebagai pelatih emosi akan sangat dibutuhkan. Lewat komunikasi Anda mengetahui apa yang dirasakan sang anak, bagaimana pendapatnya tentang suatu persoalan, apa yang membuatkan senang, apa yang membuatnya khawatir sehingga Anda sebagai ayah dapat memberikan masukan yang membangun agar sang anak dapat mengelola emosi-emosi yang dirasakannya dan belajar mengambil tindakan yang diperlukan.
Mungkin anak Anda sedang ketakutan karena ada jagoan di sekolah yang sering memalak. Anda bisa menggali perasaan anak Anda dan apa yang dia lakukan untuk menghadapi situasi tersebut. Kehadiran Anda akan membantu sang anak memahami persoalannya secara lebih luas dan dia bisa belajar mengatasinya sendiri. Pelajaran ini nantinya akan sangat berharga ketika sang anak mulai beranjak dewasa. Jika di masa kecil dia sudah belajar menangani hal-hal kecil yang dapat dia kelola, maka ketika dewasa dia akan mampu menangani persoalan-persoalan yang lebih berat dan membutuhkan kematangan emosional.
Banyak orangtua yang sebenarnya sangat menyayangi anaknya namun dalam komunikasi cenderung menjadi orangtua yang mengabaikan. Mereka mendengarkan tapi tidak memperhatikan. Mereka mengerti tapi tidak menunjukkan empati. Mereka merasa membantu tapi sebenarnya tidak membangun. Insya Allah bagian ini akan saya ulas dalam posting berbeda.
5. Mendidik Anak Lewat Permainan dan Tanya Jawab
Proses pendidikan anak yang terbaik seringkali tidak didapatkan secara formal, melainkan lewat aktivitas ringan berupa permainan atau tanya jawab. Ketika bermain mungkin anak Anda merasa kecewa karena kalah. Sebagai ayah Anda dapat membantu sang anak untuk mengenali perasaan kecewa tersebut dan bagaimana menanganinya. Suatu saat mungkin tanpa diduga anak Anda menanyakan suatu pertanyaan. Jawaban yang baik dan tepat sesuai kadar kemampuan sang anak mencerna saat itu akan menjadi pelajaran berharga baginya.
Manfaatkanlah setiap proses bermain dan tanya jawab sebagai ajang pendidikan anak Anda. Disanalah Anda dapat menanamkan nilai-nilai moral, bagaimana mengelola emosi, bagaimana menghadapi kehidupan, atau bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Ada banyak orangtua yang malas menjawab ketika anaknya bertanya. Kadang-kadang hal ini tidak selalu disengaja melainkan karena pertanyaan tersebut dianggap tidak penting atau terlalu remeh sehingga tidak perlu dijawab. Ketahuilah ketika itu dilakukan, Anda telah melewatkan suatu kesempatan emas untuk mendidik anak Anda.






September 06, 2009

PENGERTIAN DAN FUNGSI KKM

Pengertian Kriteria Ketuntasan Minimal
Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah
menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam
menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan
peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM).
KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun
besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak
mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus
pembelajaran. Acuan kriteria tidak diubah secara serta merta karena hasil
empirik penilaian. Pada acuan norma, kurva normal sering digunakan untuk
menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil rata-rata
kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva normal untuk
mendapatkan sejumlah peserta didik yang melebihi nilai 6,0 sesuai proporsi
kurva. Acuan kriteria mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang
tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang
belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampaui kriteria
ketuntasan minimal.
Kriteria ketuntasan minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan
hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa
satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Pertimbangan
pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama
penetapan KKM.
Kriteria ketuntasan menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi
sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus). Angka maksimal 100
merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan secara nasional
diharapkan mencapai minimal 75. Satuan pendidikan dapat memulai dari
kriteria ketuntasan minimal di bawah target nasional kemudian ditingkatkan
secara bertahap.
Kriteria ketuntasan minimal menjadi acuan bersama pendidik, peserta didik,
dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap penilaian di sekolah berhak untuk mengetahuinya. Satuan pendidikan
perlu melakukan sosialisasi agar informasi dapat diakses dengan mudah oleh
peserta didik dan orang tuanya. Kriteria ketuntasan minimal harus
dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB) sebagai acuan dalam menyikapi
hasil belajar peserta didik.

Fungsi kriteria ketuntasan minimal:

1. sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai
kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti. Setiap kompetensi dasar
dapat diketahui ketercapaiannya berdasarkan KKM yang ditetapkan.
Pendidik harus memberikan respon yang tepat terhadap pencapaian
kompetensi dasar dalam bentuk pemberian layanan remedial atau layanan
pengayaan;

2. sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian
mata pelajaran. Setiap kompetensi dasar (KD) dan indikator ditetapkan KKM
yang harus dicapai dan dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik diharapkan
dapat mempersiapkan diri dalam mengikuti penilaian agar mencapai nilai
melebihi KKM. Apabila hal tersebut tidak bisa dicapai, peserta didik harus
mengetahui KD-KD yang belum tuntas dan perlu perbaikan;

3. dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi
program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Evaluasi
keterlaksanaan dan hasil program kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan
pencapaian KKM sebagai tolok ukur. Oleh karena itu hasil pencapaian KD
berdasarkan KKM yang ditetapkan perlu dianalisis untuk mendapatkan
informasi tentang peta KD-KD tiap mata pelajaran yang mudah atau sulit,
dan cara perbaikan dalam proses pembelajaran maupun pemenuhan saranaprasarana
belajar di sekolah;

4. merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan
antara satuan pendidikan dengan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM
merupakan upaya yang harus dilakukan bersama antara pendidik, peserta
didik, pimpinan satuan pendidikan, dan orang tua. Pendidik melakukan
upaya pencapaian KKM dengan memaksimalkan proses pembelajaran dan
penilaian. Peserta didik upaya pencapaian KKM dengan proaktif
mengikuti kegiatan pembelajaran serta mengerjakan tugas-tugas yang telah
didesain pendidik. Orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi
dan dukungan penuh bagi putra-putrinya dalam mengikuti pembelajaran.
Sedangkan pimpinan satuan pendidikan berupaya memaksimalkan
pemenuhan kebutuhan untuk mendukung terlaksananya proses
pembelajaran dan penilaian di sekolah;

5. merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap
mata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin
untuk melampaui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian KKM
merupakan salah satu tolok ukur kinerja satuan pendidikan dalam
menyelenggarakan program pendidikan. Satuan pendidikan dengan KKM
yang tinggi dan dilaksanakan secara bertanggung jawab dapat menjadi tolok
ukur kualitas mutu pendidikan bagi masyarakat.

MEKANISME PENETAPAN KKM
Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal perlu mempertimbangkan beberapa
ketentuan sebagai berikut:

1. Penetapan KKM merupakan kegiatan pengambilan keputusan yang dapat
dilakukan melalui metode kualitatif dan atau kuantitatif. Metode kualitatif
dapat dilakukan melalui professional judgement oleh pendidik dengan
mempertimbangkan kemampuan akademik dan pengalaman pendidik
mengajar mata pelajaran di sekolahnya. Sedangkan metode kuantitatif
dilakukan dengan rentang angka yang disepakati sesuai dengan penetapan
kriteria yang ditentukan;

2. Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis
ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan
kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai
ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi

3. Kriteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar (KD) merupakan ratarata
dari indikator yang terdapat dalam Kompetensi Dasar tersebut. Peserta
didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD tertentu
apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang
telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada KD tersebut;

4. Kriteria ketuntasan minimal setiap Standar Kompetensi (SK) merupakan
rata-rata KKM Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat dalam SK tersebut;

5. Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran merupakan rata-rata dari
semua KKM-SK yang terdapat dalam satu semester atau satu tahun
pembelajaran, dan dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB/Rapor)
peserta didik;

6. Indikator merupakan acuan/rujukan bagi pendidik untuk membuat soal-soal
ulangan, baik Ulangan Harian (UH), Ulangan Tengah Semester (UTS)
maupun Ulangan Akhir Semester (UAS). Soal ulangan ataupun tugas-tugas
harus mampu mencerminkan/menampilkan pencapaian indikator yang
diujikan. Dengan demikian pendidik tidak perlu melakukan pembobotan
seluruh hasil ulangan, karena semuanya memiliki hasil yang setara;

7. Pada setiap indikator atau kompetensi dasar dimungkinkan adanya
perbedaan nilai ketuntasan minimal.

Langkah-Langkah Penetapan KKM
Penetapan KKM dilakukan oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran.
Langkah penetapan KKM adalah sebagai berikut:

1. Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan
mempertimbangkan tiga aspek kriteria, yaitu kompleksitas, daya dukung,
dan intake peserta didik dengan skema sebagai berikut:

Hasil penetapan KKM indikator berlanjut pada KD, SK hingga KKM mata
pelajaran;

2. Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran disahkan
oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan
penilaian;

3. KKM yang ditetapkan disosialisaikan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua, dan dinas pendidikan;

4. KKM dicantumkan dalam LHB pada saat hasil penilaian dilaporkan kepada
orang tua/wali peserta didik.

Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penentuan kriteria ketuntasan minimal
adalah:

1. Tingkat kompleksitas, kesulitan/kerumitan setiap indikator, kompetensi
dasar, dan standar kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.
Suatu indikator dikatakan memiliki tingkat kompleksitas tinggi, apabila
dalam pencapaiannya didukung oleh sekurang-kurangnya satu dari sejumlah
kondisi sebagai berikut:

a. guru yang memahami dengan benar kompetensi yang harus dibelajarkan
pada peserta didik;
b. guru yang kreatif dan inovatif dengan metode pembelajaran yang
bervariasi;
c. guru yang menguasai pengetahuan dan kemampuan sesuai bidang yang
diajarkan;
d. peserta didik dengan kemampuan penalaran tinggi;
e. peserta didik yang cakap/terampil menerapkan konsep;
f. peserta didik yang cermat, kreatif dan inovatif dalam penyelesaian
tugas/pekerjaan;
g. waktu yang cukup lama untuk memahami materi tersebut karena
memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan yang tinggi, sehingga dalam
proses pembelajarannya memerlukan pengulangan/latihan;
h. tingkat kemampuan penalaran dan kecermatan yang tinggi agar peserta
didik dapat mencapai ketuntasan belajar.

Contoh 1.
SK 2. : Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam
perhitungan kimia (stoikiometri)
KD 2.2 : Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukumhukum
dasar kimia melalui percobaan serta menerapkan konsep
mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia
Indikator : Menentukan pereaksi pembatas dalam suatu reaksi
Indikator ini memiliki kompleksitas yang tinggi, karena untuk menentukan
pereaksi pembatas diperlukan beberapa tahap pemahaman/penalaran
peserta didik dalam perhitungan kimia.

Contoh 2.
SK 1. : Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur, dan ikatan
kimia
KD 1.1. : Memahami struktur atom berdasarkan teori atom Bohr, sifatsifat
unsur, massa atom relatif, dan sifat-sifat periodik unsur
dalam tabel periodik serta menyadari keteraturannya, melalui
pemahaman konfigurasi elektron
Indikator : Menentukan konfigurasi elektron berdasarkan tabel periodik atau
nomor atom unsur.
Indikator ini memiliki kompleksitas yang rendah karena tidak memerlukan
tahapan berpikir/penalaran yang tinggi.

2. Kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan
pembelajaran pada masing-masing sekolah.
a. Sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai dengan tuntutan
kompetensi yang harus dicapai peserta didik seperti perpustakaan,
laboratorium, dan alat/bahan untuk proses pembelajaran;
b. Ketersediaan tenaga, manajemen sekolah, dan kepedulian stakeholders
sekolah.

Contoh:
SK 3. : Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktorfaktor
yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari dan industri

KD 3.3 : Menjelaskan keseimbangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
pergeseran arah keseimbangan dengan melakukan percobaan
Indikator : Menyimpulkan pengaruh perubahan suhu, konsentrasi, tekanan,
dan volume pada pergeseran keseimbangan melalui percobaan.
Daya dukung untuk Indikator ini tinggi apabila sekolah mempunyai sarana
prasarana yang cukup untuk melakukan percobaan, dan guru mampu
menyajikan pembelajaran dengan baik. Tetapi daya dukungnya rendah
apabila sekolah tidak mempunyai sarana untuk melakukan percobaan atau
guru tidak mampu menyajikan pembelajaran dengan baik.

3. Tingkat kemampuan (intake) rata-rata peserta didik di sekolah yang
bersangkutan

Penetapan intake di kelas X dapat didasarkan pada hasil seleksi pada saat
penerimaan peserta didik baru, Nilai Ujian Nasional/Sekolah, rapor SMP,
tes seleksi masuk atau psikotes; sedangkan penetapan intake di kelas XI dan
XII berdasarkan kemampuan peserta didik di kelas sebelumnya.

Contoh penetapan KKM
Untuk memudahkan analisis setiap indikator, perlu dibuat skala penilaian
yang disepakati oleh guru mata pelajaran. Contoh:
Photobucket
Jika indikator memiliki kriteria kompleksitas tinggi, daya dukung tinggi dan
intake peserta didik sedang, maka nilai KKM-nya adalah:
1 + 3 + 2 : 9 X 100 = 66,7

Nilai KKM merupakan angka bulat, maka nilai KKM-nya adalah 67.
Contoh:

PENENTUAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL PER KD DAN INDIKATOR
Mata Pelajaran : KIMIA
Kelas/semester : X/2

Standar Kompetensi : Memahami sifat-sifat larutan non-elektrolit dan elektrolit,
serta reaksi oksidasi-reduksi
Photobucket
Nilai KKM KD merupakan angka bulat, maka nilai KKM 72,47 dibulatkan
menjadi 72.

Mata Pelajaran : KIMIA
Kelas/semester : X/2

Standar Kompetensi : Memahami sifat-sifat larutan non-elektrolit dan elektrolit,
serta reaksi oksidasi-reduksi
Photobucket
Catatan: hasil rata-rata dari indikator merupakan nilai KKM untuk KD
ANALISIS KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL
Pencapaian kriteria ketuntasan minimal perlu dianalisis untuk dapat ditindaklanjuti
sesuai dengan hasil yang diperoleh. Tindak lanjut diperlukan untuk melakukan
perbaikan dan penyempurnaan dalam pelaksanaan pembelajaran maupun penilaian.
Hasil analisis juga dijadikan sebagai bahan pertimbangan penetapan KKM pada
semester atau tahun pembelajaran berikutnya.
Analisis pencapaian kriteria ketuntasan minimal bertujuan untuk mengetahui
tingkat ketercapaian KKM yang telah ditetapkan. Setelah selesai melaksanakan
penilaian setiap KD harus dilakukan analisis pencapaian KKM. Kegiatan ini
dimaksudkan untuk melakukan analisis rata-rata hasil pencapaian peserta didik
kelas X, XI, atau XII terhadap KKM yang telah ditetapkan pada setiap mata
pelajaran.
Manfaat hasil analisis adalah sebagai dasar untuk meningkatkan kriteria ketuntasan
minimal pada semester atau tahun pembelajaran berikutnya. Analisis pencapaian
kriteria ketuntasan minimal dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data perolehan
nilai setiap peserta didik per mata pelajaran.

Contoh
FORMAT
ANALISIS PENCAPAIAN KETUNTASAN BELAJAR PESERTA DIDIK PER KD
Nama Sekolah :
Mata pelajaran :
Kelas/semester :
Photobucket
Photobucket

Untuk contoh menentukan KKM silahkan
DOWNLOAD

Agustus 26, 2009

Guru

Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan pada anak didik. Guru merupakan satu komponen yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari pada komponen pengajaran lainnya. Sebab guru merupakan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Karena guru mempunyai hubungan sangat dekat dengan anak didik dalam upaya pendidkkan sehari –hari di sekolah dan untuk menentukan keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan pendidikan. Dalam pengembangan masyarakat, guru adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat – tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal. Masyarakat yakin bahwa Gurulah yang dapat mendidik anak didiknya agar menjadi orang yang kepribadian mulia.
Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, maka di pundak guru diberikan tugas dan tanggung jawab, yang nama keduanya harus diperhatikan oleh guru. Karena pembinaan yang guru berikan tidak hanya secara kelompok memperhatikan sikap, tingkah laku dan perbuatan anak didiknya, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga diluar lingkungan sekolah. Karena guru bukan hanya dituntut untuk mengajar dalam artian menyampaikan pengetahuan saja kepada anak didik melainkan juga senantiasa mengembangkan pribadi anak didiknya. Menurut undang – undang No. 2 tahun 1989 tentang system pendidikan nasional, guru termasuk kelompok tenaga kerja pendidikan khususnya tenaga pengajar yang bertugas untuk membimbing, mengajar dan melatih anak didik.
Seorang Guru juga merupakan agen pembaharuan dan berperang sebagai prmimpin dan pendukung nilai – nilai masyarakat, maka dari itu guru dituntut untuk bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar siswa, serta bertanggung jawab secara professional untuk terus meningkatkan kepemimpinannya sebagai seorang pendidik. Dengan kenyataan tersebut, maka kedudukan dan peranan guru sngatlah penting, sebagaimana seorang Sayyid Alwi bin As-Saqah berkata :
ان المشيخة شأنها عظيم وامرها عال جسيم (القوائد المكية ص۲۵ )
Artinya : “Sesungguhnya guru itu kedudukannya sangat penting dan peranannya amat tinggi dan besar”
2. Macam – Macam Karakteristik Guru
Tugas dan peran guru sebagai pendidik sesungguhnya sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif di dalam kelas, yang lazim disebut prses belajar mengajar. Guru juga bertugas sebagai administrator, evaluator, konselor dan lain – lain. Sesuai dengan kompetensi (kemampuan yang dimilikinya)
Adapun karakteristik atau sikap meliputi :
a. Sikap yang ekstrim (extremeneis)
Sikap yang ekstrem sulit berubah, baik dalam perubahan kongruen maupun inkongruen (perubahan yang kongruen adalah perubahan yang searah, yakni bertambahnya derajat kepositifan atau kenegatifan dari sikap semula. Sedangkan perubahan sikap inkongruen adalah perubahan sikap kearah yang berlawanan, misalnya sikap yang negative menjadi positif atau sebaliknya).
b. Multipleksitas (Notiplexity)
Sikap yang berkarakteristik multiplek mudah berubah secara kongruen, namun sulit berubah secara inkongruen.
c. Konsistensi (Consistency)
Sikap yang konsisten cenderung menunjukkan sikap yang stabil, karena komponennya saling mendukung satu sama lain. Ini akan mudah diubah kearah inkongruen. Sebaliknya sikap yang tidak konsisten lebih mudah diubah kearah kongruen.
d. Interconnectedness
Interconnetdness adalah keterikatan suatu sikap dengan sikap lain dalam suatu teluster. Sikap yang mempunyai kadar keterikatan fungsi sulit diubah ke inkongruen, sebaliknya lebih mudah diubah kea rah kongruen
e. Konsonan (Consonance)
Sikap yang saling berderajat selaras akan lebih cenderung membentuk sutau kluster. Kluster tersebut cenderung pula memiliki derajat saling keterhubungan. Sikap demikian disebut sebagai sikap yang berkarakteristik konsonan dalam sutau gugus sikap.
f. Pemusatan nilai – nilai yang berhubungan dengan sikap Yading (Centrality of the value to wich the attitude Islam related)
Sikap seseorang yang berakar pada nilai yang dianutnya, meskipun ditukarkan alasan – alasan persuasive dan didukung kenyataan yang kukuh tetapi sulit untuk diubah, keculai dengan cara merubah nilai (konsep tentang baik yang dianutnya)
Guru yang tidak mempunyai kepribadian, kemungkinan besar tidak akan dapat menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan proses belajar mengajarnya. Karena kepribadian guru merupakan factor yang dominant dalam menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Dan dengan kepribadian yang mantap guru akan menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dalam proses belajar mengajar. Karena itu kepribadian sangatlah berpengaruh terhadap proses belajar mengajar.
Peranan guru sebagai mediator atau perantara antara pengetahuan dan ketrampilan dengan siswa yang membutuhkannya. Dan sanga berpengaruh pada hasil proses belajar mengajar.
Adapun karakteristik guru yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar adalah sebagai berikut :
a. Karakteristik intelektual guru yang meliputi : potensialibility (kapasitas ranah cipta bawaan) dan actual ability (kemampuan ranah cipta yang nyata).
b. Karakteristik ranah guru yang meliputi : tingkat minat, keadaan emosi dan sikap terhadap siswa dan mata pelajaran faknya dan lain - lain
c. Usia guru, ini hubungannya dengan tugas yang diemban. Contohnya guru yang tua lebih cocok mengajakan pelajaran yang berorientasi pada kemampuan pekerti di bandingkan dengan guru yang muda
d. Jenis kelamin guru, ini juga berhubungan dengan tugas yang diembannya, misalnya pengajaran guru yang berasal dari strata menengah kebawah reatif lebih positif dan bangga menjadi guru di bandingkan dengan guru yang berasal dari strata social yang tinggi.
3. Peran Guru dalam proses belajar mengajar
Pemahaman seorang guru terhadap pengertian belajar mengajar akan mempengaruhi perencanaan dan pelaksanaan PBM. Sedangkan pandangan tentang belajar mengajar itu sendiri terus berkembang sejalan dengan tuntutan perkembangan IPTEK. Karena itu penulis akan mengemukakan beberapa pengertian tentang istilah belajar dan mengajar menurut para ahli pendidikan.
a. Definisi belajar
W.H. Burton, sebagaimana yang dikutip oleh Uzer Usman dalam bukunya “upaya optimalisasi kegiatan belajar mengajar” mendefinisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Ernest R. Hilgord berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses dimana di timbulkan atau diubahnya suatu kegiatan karena mereaksi suatu keadaan. Perubahan itu tidak disebabkan oleh proses pertumbuhan (kematangan) atau keadaan organisme yang sementara seperti kelelahan atau karena pengaruh obat – obatan. Sedangkan H.C. Witherington mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian. Senada dengan pernyataan Witherington, Crow dan Crow mendefinisikan bahwa belajar adalah perubahan individu dalam kebiasaan, sikap dan pengetahuan.
Sedangan Nana Sudjana mendefinisikan bahwa belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang yang bisa berupa berubah pengetahuannya, sikappun bertingkah lakunya, ketrampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan aspek – aspek lain yang ada pada diri individu.
Slameto mendifinisikan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dgnlingkungannya.
Definisi – definisi belajar yang dikemukakan oleh para ahli tersebut selalu melibatkan perubahan di dalam individu yang belajar. Akan tetapi sebagaimana pernyataan Hilgard, bahwa tidak setiap perubahan dalam arti belajar. Perubahan yang semata – mata karena kematangan atau pertumbuhan, dan perubahan – perubahan yang bersifat sementara, misalnya akibat dari penyakit, kelelahan, kelaparan dan lain – lain tidaklah termasuk perubahan dalam belajar.
b. Definisi mengajar
Mula – mula mengajar diartikan sebagai penyampaian sejumlah pengetahuan karena pandangan yang seperti ini, maka guru dipandang sebagai sumber pengetahuan dan siswa dianggap tidak mengerti apa – apa. Pengertian ini sejalan dengan pandangan Jerome S. Brunner yang berpendapat bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh siswa.
Pandangan seperti ini kini mulai ditinggalkan. Orang mulai beralih ke pandangan bahwa mengajar tidaklah sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan berusaha membuat suatu situasi lingkungan yang memungkinkan siswa untuk belajar. Para ahli pendidikan yang sejalan dengan pendapat tersebut antara lain : Nasution, yang merumuskan bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik – baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadilah proses belajar mengajar. Berikutnya adalah Tyson dan Caroll yang menyatakan bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara guru dengan siswa yang sama – sama aktif melakukan kegiatan. Sedangkan Tordif berpendapat bahwa mengajar adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (guru) dengan tujuan membantu dan memudahkan orang lain (siswa) untuk melakukan kegiatan belajar. Adapun konsep baru tentang mengajar menyatakan bahwa mengajar adalah membina siswa bagaimana belajar, bagaimana berfikir dan bagaimana menyelidiki.
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa aktivitas yang sangat menonjol dalam pengajaran ada pada siswa. Namun, bukan berarti peran guru tersisihkan, tetapi diubah, kalau guru dianggap sebagai sumber pengetahuan, sehingga guru selalu aktif dan siswa selalu pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru adalah seorang pemandu dan pendorong agar siswa belajar secara aktif dan kreatif.
c. Definisi proses belajar mengajar
Proses belajar merupakan inti dari proses pendidikan formal di sekolah. Syamsuddin Makmur menyatakan bahwa proses belajar mengajar adalah suatu interaksi antara siswa dengan guru dalam rangka mencapai tujuannya. Pernyataan senada dikemukakan oleh Suryabrata yang mengemukakan bahwa peaksanaan PBM dapat disimpulkan bahwa pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pengajaran Sedangkan Muhibbin Syah menyatakan : pada umumnya para ahli sependapat bahwa yang disebut dengan PBM adalah sebuah kegiatan integral (utuh terpadu) antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan guru sebagai pengajar yang sedang mengajar.
Adapun definisi PBM pendidikan agama di kemukakan oleh Muhaimin yang berkesimpulan bahwa PBM pendidikan agama merupakan suatu proses yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku seseorang sesuai dengan taksonomi tujuan pendidikan agama yang meiputi aspek kognitif, afektif dan prikomotorik.
Menurut penulis, definisi yang dikemukakan oleh Muhaimin diatas belum lengkap, karena dalam finisnya ia tidak menjelaskan jenis proses kegiatan apakah yang mengakibatkan perubahan itu terjadi ? Dan dilakukan oleh siapa sajakah kegiatan itu ? Penulis berkesimpulan bahwa yang dimaksud dengan PBM pendidikan Agama Islam adalah suatu proses kegiatan yang di dalamnya terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan mungkin juga antara siswa dengan siswa dalam rangka menyampaikan baha pelajaran pendidikan agama Islam kedepan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran pendidikan agama Islam yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Get paid To Promote at any Location